img

Metaverse: Masa Depan Internet, Benarkah Demikian?

Halo, Greaters!

Mungkin kamu pernah dengar istilah Metaverse, entah lihat di sosial media kamu atau berita. Sedang ramai dibicarakan, sebenarnya seperti apa sih Metaverse itu?

Coba pikirkan video game seperti Minecraft. Pemain mengontrol karakter atau peristiwa di layar dengan bantuan perintah dan tombol. Sekarang, bayangkan kalau, sebagai gantinya kamu duduk di konsol dan menonton permainan terbuka di layar. Pemain bisa berada di dalam permainan, berpartisipasi bukan dari luar tetapi sebagai karakter yang tertanam di dalamnya.

Ada banyak perbincangan tentang metaverse di antara investor kaya dan perusahaan teknologi besar, dan gak ada yang mau ketinggalan jika itu menjadi masa depan internet. Hal ini dikarenakan adanya perasaan bahwa untuk pertama kalinya, kemajuan teknologi dalam game VR dan konektivitas mendekati apa yang mungkin dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat.

Konsep Metaverse

GamemultiplayerOnline telah berbagi dunia interaktif selama beberapa tahun belakangan. Memang, game-game tersebut gak bisa disebut metaverse. Tetapi gamemultiplayeronline memiliki beberapa ide atau konsep yang sama dengan metaverse.

Meskipun ada begitu banyak ide tentang apa itu metaverse, sebagian besar melihatinteraksi sosial manusia sebagai intinya.

Facebook, misalnya, telah bereksperimen dengan aplikasi pertemuan VR yang disebut Workplace, dan ruang sosial bernama Horizons, yang keduanya menggunakan sistem avatar virtual mereka.

Gak seperti VR saat ini, yang sebagian besar digunakan untuk bermain game, metaverse bertujuan untuk melakukan hampir semua hal - bekerja, bermain, konser, menonton bioskop, mengikuti les - atau sekadarhang out, semua dilakukan secara digital.

Coba juga: Memulai Karir Sebagai Digital Marketer

Kebanyakan orang membayangkan bahwa kamu akan memiliki avatar 3D - representasi diri kamu sendiri - saat kamu menggunakannya. Tetapi karena itu masih hanya sebuah ide, gak ada definisi tunggal yang disepakati tentang metaverse.

Ini adalah konsep yang melibatkan dunia online di mana orang bisa berinteraksi dengan orang lain, berkolaborasi dan berkomunikasi secara virtual, tanpa harus berada di ruang yang sama.

Misalnya, kamu bisa berada di Jogjakarta dan keluarga kamu mungkin berada di Kalimantan, tetapi kamu bisa menikmati makan malam bersama sambil duduk mengelilingi meja yang sama.

Ini seperti Zoom atau Google Meet pada steroid. Alih-alih menatap keluargamu di layar, kamu akan benar-benar melihat anggota keluarga kamu di seberang meja. Menarik, bukan?

Potensi realitas virtual sangat besar, terutama dari sudut bisnis. Bayangkan kalau kamu bisa melakukan uji coba penuh dari gaun yang kamu temukan secara online sebelum melakukan pemesanan. Atau, benar-benar melompat ke dalam mobil yang ingin kamu beli untuk uji coba dengan hanya duduk di kamar kos kamu?

Metaverse juga bisa menjadigame-changeruntuk shift kerja dari rumah di tengah pandemi virus corona. Alih-alih melihat rekan kerja di kotak panggilan video, karyawan bisa bergabung dengan mereka di kantor virtual.

Bagaimana Cara Kerja Metaverse?

Facebook melakukan terobosan pertamanya dalam menciptakan dunia VR dengan peluncuran Facebook Horizon pada tahun 2019, lingkungan imersif khusus undangan yang bisa dimasuki pengguna dengan memasang headset Oculus.

Pada bulan Agustus, Facebook meluncurkan Horizon Workrooms, sebuah fitur di mana rekan kerja yang memakai headset VR bisa mengadakan rapat di ruang virtual di mana mereka semua muncul sebagai versi 3D kartun dari diri mereka sendiri. Namun, ke depannya, prospeknya adalah metaverse menjadi ruang yang jauh lebih berkembang ke berbagai aspek di masyarakat.

Tentang Privasi Data

Setelah mantan karyawan Facebook Frances Haugens membagikan dokumen internal yang menunjukkan bahwa perusahaan mengetahui bahwa produknya bisa berdampak negatif pada anak-anak.

The Washington Post sebuah publikasi yang dimiliki oleh pendiri Amazon Jeff Bezos bulan lalu mengatakan dorongan metaverse Facebook adalah bagian dari dorongan yang lebih luas untuk merehabilitasi reputasi perusahaan dengan pembuat kebijakan dan memposisikan ulang Facebook untuk membentuk regulasi teknologi Internet gelombang berikutnya.

Sementara perusahaan belum membagikan banyak detail tentang privasi dan penggunaan data dalam metaverse, kontroversi yang dihasilkan oleh penanganan data pengguna Facebook di masa lalu menciptakan kekhawatiran. Bagaimana hal itu akan mendekati data yang berbeda secara kualitatif, dan kemungkinan lebih pribadi, yang pengguna akan hasilkan di metaverse.

Kamu akan bisa berkumpul dengan teman, bekerja, bermain, belajar, berbelanja, berkreasi, dan banyak lagi. Ini gak selalu tentang menghabiskan lebih banyak waktu online - ini tentang membuat waktu yang kamu habiskan online lebih bermakna, ujar Facebook bulan September lalu.

Memusatkan pengembangan metaverse di Eropa, di mana Uni Eropa telah menerapkan beberapa aturan privasi dan pemrosesan data paling ketat di dunia sebagai bagian dari Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR) bisa menjadi bagian dari strategi untuk tetap sejalan dengan regulator sambil menciptakan teknologi baru.

Meskipun Metaverse gak akan langsung diluncurkan dalam waktu dekat, proses perencanaan terkait pelaksanaannya sudah mulai berjalan. Nah, seperti apa hasilnya nantinya kita tunggu saja ya, Greaters. Semoga apapun jadinya metaverse, bisa mempermudah kegiatan manusia dari berbagai aspek.